Mungkin dengan aku bercerita begini, aku sedikit bercurhat dan kali ini cerita tentang masa kecilku yang sedikit membuat dampak sampai sekarang (bahkan kelihatannya banyak). Kenapa aku memberi judul seperti diatas, ya karena ketika aku masih SD kelas 3 (kalo gak salah, agak lupa aku) aku pernah jatuh dari pohon mangga didepan rumah.
Entah memang ada sebabnya atau mungkin sudah takdirnya begitu (nasib-nasib). Karena aku jatuhnya ketika hari sudah mau Maghrib, dimana waktu-waktu seperti itu rawan untuk berkegiatan (kecuali sholat lo). Dan parahnya ketika jatuh, tangan kiriku yang tak buat menyangga tubuhku. Bisa ditebak, tangan ku langsung retak (dasar bocah kakean polah).
Seketika setelah Maghrib selesai, aku langsung dibawa ke tukang pijat (bukan pijat plus2!!) dan ada 4orang yang mengantar aku pada waktu itu yaitu Bapak, Ibu dan Paman ku serta sopir mobil. Untuk daerah tepatnya didaerah siti inggil (artinya lemah nduwur atau Gunung Kidul). Setelah mendaki lumayan tinggi di Gunung Kidul Sambil menahan rasa sakit ditangan kidalku yang dibalut dan sambil bersandar dibangku, ibuku berbicara kepada ku.
“Mas (ibuku kalo manggil aku dirumah pake mas), tengok tu diluar ada pemandangan jogja lo” kata ibu sambil menghibur.
(dalam batin aku bicara) gak tau apa ya kalo lagi nahan sakit, kalo aku nengok keluar tiba-tiba ada psikophat kan malah berabe.
Ya tapi itu tidak aku ucapkan, kalo aku ucapkan ntar tiba-tiba aku jadi batu yang ada aku malah ditinggal di Gunung Kidul (menjadi arca tangan diperban).
Dan akhirnya sampai juga dirumah dimana tukang pijat tinggal, tidak berapa lama pun dimulailah mengurut tangan kidalku. Dan gak bisa dibayangkan (jangan harap untuk dibayangkan), sakitnya ya ampun luar biasa (pengen gue tonjok ini tukang pijat). Mana dipegang, diraba trus dipijat lalu tiba-tiba maen ditarik aja tangan ku. Wah pada waktu itu tidak bisa terelakan air mata dan jeritan ku (merengek gaya anak SD minta mainan).
Udah yang pas pijat dilewatin aja, selesai diurut dan diperban serta dikasih gip bangkitlah diriku dari keganasan urutan tadi. Setelah memberikan sumbangan kepada sang pemijat (gila nambah beban sakit aja dikasih uang), aku dibawa pulang di rumah singgasana yang memang disitulah aku harusnya berada.
Cukup aja ya cerita kelam ku diwaktu aku masih SD, semoga bisa jadi pelajaran bagi diriku (syukur bisa buat orang lain).
0 Response to "Masa Kecilku Yang (Sedikit) Kelam"
Posting Komentar